Rektor Unpad telah mengetuk palu untuk memutuskan kenaikan biaya SPP bagi mahasiswa baru tahun 2008. Kenaikan yang diberlakukan tidak tanggung-tanggung yaitu hampir 100%. Sebagai contoh, mahasiswa fisip yang sebelumnya membayar 1,6 juta setiap tahun dengan rincian biaya SPP sebesar 1,2 juta setiap tahun dan biaya praktikum sebesar 400 ribu setiap tahun. Untuk tahun 2008, mahasiswa baru harus merogoh kocek lebih dalam lagi karena kenaikan biaya SPP sampai 4 juta setiap tahunnya. Pada hari jumat, 1 agustus 2008, mahasiswa telah melakukan audiensi dengan pihak rektorat untuk menanyakan kejelasan kenaikan biaya SPP dan menyatakan sikap penolakan dari mahasiswa terhadap kebijakan yang sangat memberatkan itu. Setelah terjadi perdebatan panjang antara mahasiswa dengan pihak rektorat yang diwakili oleh PR II dan PR III, tuntutan mahasiswa untuk mencabut kebijakan yang berkaitan dengan kenaikan biaya SPP ternyata tidak dipenuhi oleh pihak rektorat dan PR II dan PR III yang hadir pada saat itu juga tidak bersedia menyatakan dukungan terhadap gerakan mahasiswa untuk menolak kenaikan biaya SPP.
Menaikan biaya SPP ditengah kesusahan masyarakat akibat himpitan ekonomi adalah kebijakan yang sangat tidak bijaksana dan tidak peka lingkungan sosialnya. Belum hilang penderitaan akibat kenaikan BBM beberapa waktu lalu, kini masyarakat dibebani lagi oleh mahalnya biaya kuliah. Tampaknya tidak ada sesuatu apapun yang benar-benar merupakan hak rakyat di republik ini. Republik ini telah menjelma menjadi Perusahaan Indonesia Raya dan Unpad pun menjadi Perusahaan Universitas Padjadjaran Tbk.
Lalu apakah kita harus diam saja? Apakah perlawanan sudah selesai ketika audiensi gagal dan rektorat menolak tuntutan mahasiswa? TIDAK BUNG!!!. Memang elit-elit bangsa ini memilki kemiripan baik di tingkat pusat, daerah sampai di tingkatan kampus yaitu kesulitan mendengar penderitan rakyat. Keluhan kesakitan, rintihan kemiskinan dan perdebatan penolakan tidak cukup untuk menggetarkan gendang telinga mereka. Meman, gendang telinga yang sudah lama tidak dipakai untuk mendengar penderitaan orang lain akan susah digetarkan hanya dengan perdebatan dan rintihan kemiskinan. Harus ada sebuah dobrakan, teriakan lantang berisi perlawanan untuk menggetarkan gendang telinga yang telah penuh dengan kotoran dan kemunafikan. Mari rekan-rekan mahasiswa, SATUKAN SIKAPMU, SATUKAN LANGKAHMU, SATUKAN GERAKANMU UNTUK MENOLAK KENAIKAN BIAYA SPP. JANGAN DIAM, JANGAN JADI SAMPAH SEJARAH KARENA SEJAK DULU KALA PARA PEMUDA TELAH MENGUKIR SEJARAH REPUBLIK INI.
Menaikan biaya SPP ditengah kesusahan masyarakat akibat himpitan ekonomi adalah kebijakan yang sangat tidak bijaksana dan tidak peka lingkungan sosialnya. Belum hilang penderitaan akibat kenaikan BBM beberapa waktu lalu, kini masyarakat dibebani lagi oleh mahalnya biaya kuliah. Tampaknya tidak ada sesuatu apapun yang benar-benar merupakan hak rakyat di republik ini. Republik ini telah menjelma menjadi Perusahaan Indonesia Raya dan Unpad pun menjadi Perusahaan Universitas Padjadjaran Tbk.
Lalu apakah kita harus diam saja? Apakah perlawanan sudah selesai ketika audiensi gagal dan rektorat menolak tuntutan mahasiswa? TIDAK BUNG!!!. Memang elit-elit bangsa ini memilki kemiripan baik di tingkat pusat, daerah sampai di tingkatan kampus yaitu kesulitan mendengar penderitan rakyat. Keluhan kesakitan, rintihan kemiskinan dan perdebatan penolakan tidak cukup untuk menggetarkan gendang telinga mereka. Meman, gendang telinga yang sudah lama tidak dipakai untuk mendengar penderitaan orang lain akan susah digetarkan hanya dengan perdebatan dan rintihan kemiskinan. Harus ada sebuah dobrakan, teriakan lantang berisi perlawanan untuk menggetarkan gendang telinga yang telah penuh dengan kotoran dan kemunafikan. Mari rekan-rekan mahasiswa, SATUKAN SIKAPMU, SATUKAN LANGKAHMU, SATUKAN GERAKANMU UNTUK MENOLAK KENAIKAN BIAYA SPP. JANGAN DIAM, JANGAN JADI SAMPAH SEJARAH KARENA SEJAK DULU KALA PARA PEMUDA TELAH MENGUKIR SEJARAH REPUBLIK INI.
1 komentar:
merdeka....
kita berjuang menegakkan kemerdekaan berfikir..
Posting Komentar